Sunday, 15 September 2013
Ijrail menjemput
Malam pekat begitu ramai oleh para bintang, mereka berlomba-lomba berkedip menarik hati makhluk yang sedang melihatnya. Sebuah Gubuk, pikirnya bu mimin dan kedua anaknya serasa menjadikan itu sebuah istana yang nyaman dan memiliki memori lampaw yang mahal untuk di ingat, dan selalu di buka kembali oleh seorang ibu dan anak, yang kangen akan masa-masa kebersamaan yang mereka jalani dulu. Sepercik cinta yang selalu mereka kumpulkan, di tabung, disimpan untuk para hati keluarga yang mereka yakini.
***
Kini rasa bahagia pun memudar dan puing-puing keindahan kian terkikis di hati bu mimin, semenjak sang suami “markum” meninggalkannya. Tapi bu mimin sangatlah beruntung memiliki penawar yang tidak terbayang. anak laki-laki remaja yang shaleh dan anak perempuan yang manis sangat lah manjur untuk mengobati kegalawannya. Hari-hari mereka jalani dengan tawa dan senyuman yang mereka buat. semakin hari bu mimin mendapatkan suatu keasikan yang membuat dia nyaman dan tenang yang di hasilkan oleh anaknya.
***
Duaratus hari pun berlalu. Bu mimin pun mulai gelisah dan rasa sesak pun mulai mencekik kebahagiaannya kembali.
Cahaya terang dari lampu, menyorotkan seruangan tengah, rumah bilik atau gubuk terasa ramai, oleh para tetangga yang mulai berdatangan. Ibu mimin merasakan sedih jiwanya terombang melihat anak lelakinya yaitu “jaka” sudah seminggu ini merasakan sakit dan sikapnya kian aneh.
Terlintas ibu mimin mengingat mendiang suaminya “rupanya, sudah dua ratus hari aye di tinggal abah markum” gumam dalam hatinya.
Ruangan yang pengap oleh para tetangga yang saling berdatangan bukanlah soal bagi ibu janda beranak dua itu. Para tetangga pun duduk di sampingnya.
Para tetangga yang datang memberikan sedikit rizki dan harapan untuk keluarga itu, mungkin itu tidak seberapa, tapi bu mimin bersyukur dan menerimanya dengan tangan terbuka. Suartini yaitu tetangga nya berpeluk pada bu mimin karena perihatin melihat nya. semakin hari semakin hilang kebahagiaannya, “semoga ibu kuat, kami para tetangga akan membantu ibu mimin semaksimal mungkin, untuk kesembuhan jaka” kata suartini. Kemudian bu mimin menolak bahwa dia tak ingin menjadi beban untuk kehidupan tetangganya.
***
Jaka kelihatan pucat dan merasakan ketidaknyamanannya berbaring di kasur yang mulai basah oleh keringatnya. Tenggorokan terasa kering, jaka merintih meminta kepada ibunya mengambilkan minum untuknya.
Kemudian, Dia berusaha bicara dengan keras memanggil adiknya namun yang terdengar hanya seperempatnya saja.
Sinta yang lagi duduk di belakang para tetangga, sontak berdiri. sinta maju dualangkah “sinta, kesini berdekatan sama abang” kata jaka. sinta yang berada di belakang para tetangga permisi dan menghampiri abangnya yang malang itu.
lalu sinta duduk di dekat pinggir nya yang sedang berbaring.
Dan jaka mulai mengatakan apa yang ada di pikirannya “abang punya hutang pada mu dua ribu, bekas beli pulpen. Di laci kamar tempat baju abang, dibawah bajunya ada uang limaratus ribu” jaka menarik nafas lalu melanjutkan “ambil semua lalu berikan pada ibu tigaratus ribu, dan sisanya abang bayar utang padamu”.
Mata sinta berbinar, dan mulai berkaca-kaca, saat sinta mau berbicara, jaka memotongnya dengan cepat dan lumayan terdengar keras “Abang berharap pada mu, uang itu tidak seberapa, abang hanya ingin keluarga ini terlihat bahagia” mereka terdiam sejenak, sinta pun berdiri dan berjalan menuruti apa perkataan abangnya.
***
Penglihatan jaka kian kabur.
Jaka kaget, jantung terdengar memalu telinga, dia melihat sosok lelaki seperti ayahnya dekat telapak kakinya. Jaka berfikir dan memastikan, bahwa itu mungkin dilihatnya bukan lah ayah yang sebenarnya, itu adalah sesosok Jin yang menyamar menjadi ayahnya.
Kemudian jaka berkata pada ibunya yang berada di samping ”bu, barusan abang lihat ayah”.
***
Kini jaka tahu bahwa ini sudah saatnya, tuhan telah membuka keanehan dan kuasanya di mata jaka, kemudian jaka berfikir lagi, dia ingin mengurangi beban oleh jasadnya nanti dan berharap semua orang mengijinkan “bu, abang mau mandi, pingin adus, punggung abang terasa panas” ibu mimin pun melaksanakan kemauan anaknya itu, jaka pun di bantu, di bopong oleh dua lelaki, anak tetangganya, sekaligus teman mainya , jaka di bawa ke kamar mandi.
Usai mandi, jaka di bawa ke kamarnya, memakai baju sederhana yang biasa di pakainya. Kemudian jaka di bawa kembali keruang tengah dan dibaringkannya kembali. Dia sangat senang, merasakan segar dan nyaman, dari kotor yang membuat dirinya pengap dan merasakan buntu di fikirannya, kini telah hilang.
***
“bu” jaka memanggil, kemudian ibumimin menatap matanya, jaka pun melanjutkan “apa semua keluarga kita sudah berdatangan, abang pingin banget bertemu dengan mereka”.
Ibu mimin mengelus dahinya lalu menjawab “sudah nak, kami doakan semoga abang cepat sembuh” setelah mendengar itu jaka tersenyum dengan lepas, semua keluarga, paman bibinya, disuruh ibu mimin mnghadap jaka. Mereka pun duduk di dekatnya “terimakasih semua, paman, bibi, kakak semua,ade-ade ku , jaka sangat berterimakasih tlah nengok jaka hari ini” kata jaka.
Jaka merasa senang, saat terakhir nya dia bisa bertatap muka dengan keluarga yang ia sayangi, senyuman keluarganya, dirasakan nya bahwa itu adalah harta yang sangat besar yang ia pegang dari dulu
***
Beberapa menit berlalu. ibu mimin melihat jaka mengucap stigfar ”astagfirullah haladzim”
Jaka melihat sesosok makhluk tinggi besar, yang belum pernah ia lihat. Dia mengaku bahwa dirinya Ijrail. Jaka sangat kaget kemudian setelah itu semua orang melihat jaka mengucapkan syahadat, jaka merasakan takut, kemudian ia menenangkan dirinya bawa ini tidak ada apa-apa, dan ia meyakini bahwa itu adalah makhluk kepercayaan tuhan yang di utusnya untuk membawa dirinya menghadap.
lampu tiba-tiba mati, semu orang terlihat panik, salah satu orang disana yaitu “judin” mencari lentera “ bu mimin, apakah disini ada lentera penerangan, saya mau mencari itu” Tanya judin.
Lalu bumimin berdiri dan menjawabnya dengan suara panik “ pak, pak judin, di dapur di atas meja makan ada lilin satu, cepat pak saya minta tolong”
selang beberapa detik lampu pun menyala kembali.
Jaka terlihat membisu dan tidak ada gerakan sedikitpun hanya beberapa nafas yang ia
keluarkan
Jaka merasa tenang, kian memberi keistimewaan dan rasa sakit pun tak ada hanya kenikmatan yang dia rasakan, yang di berikan tuhan dari hasil ketaatan yang selalu dia jalani. Wajah jaka terlihat bersinar, senyumnya membwakan harapan bagi semua orang yang berada disana. Membuang nafas terakhir menjadikan dirinya utuh sebagai anak penyelamat untuk bapak, ibunya.
***
Saat jaka dicabut ruhnya terdengar bisikan di telinga nya “aku tidak kesulitan mencabut ruh mu, dan kou tampak kelihatan begitu menikmatinya anak shaleh, aku senang bertasbih dengan mu. Mari kita pergi ketempat yang di janjikan allah, dan tinggalkan lah urusan dunia mu. Yakin bahwa keluargamu akan selalu dijaganya”.
jaka terlihat tersenyum, nafasnya terhenti dan rasa ketenangan nya memeluk dirinya membawa dirinya terbang kelangit. Tubuhnya mengeluarkan semerbak wangi -wangian membuat orang-orang yang berada di ruangan itu merasakan betah dan nyaman, mereka semua dengan ikhlas mengangkat tangannya, berdo’a untuk jaka.
***
Tangis haru dan sedih mengiringi ibu mimin, do’a-do’a di keluarkannya, memberIkan beribu biru kenikmatan untuk anaknya. Sang adik “sinta” menatap kosong kakak nya, matanya tak henti mengeluarkan tetesan kesedihan dan kehilangan yang teramat sangat. Kemudian sinta berjalan dan tersungkur memeluk punggung ibunya. Sembari sinta berkata terbata-bata “I…, ibu, abang kenapa, saat abang menutup mata kenapa ibu menangis ?”
Ibu mimin menundukan kepala dan tak hentinya ia menangis saat mendengar perkataan sinta yang begitu membingungkan dirinya untuk berkata.
Kini sinta tahu bahwa abangnya telah meninggalkan tubuhnya, Sinta masih teringat dan melekat di pikirannya, perkataan abangnya yang menjadikannya merasa kuat menjalani hidup yang penuh liku dan menyakitkan. Dan ia percaya bahwa abangnya “jaka” di beri ketenangan dan kebahagiaan di alam sana.
dengan penuh air mata dan rasa henyak, sinta dan ibunya berusaha membaca ayat-ayat tuhan untuk jaka. Lembar demi lembar ia panjatkan sinta kepada abangnya. Dan ia pikir bahwa hadiah yang di inginkan oleh abangnya adalah do’anya setiaphari.
Malam itu begitu haru, semua orang didalam gubuk rumah jaka, merasa kan kehilangan sesosok “jaka”. Anak Remaja yang bersahaja dan shaleh di mata mereka.
Subscribe to:
Comments (Atom)
